Aktivitas bersepeda
belakangan ini kembali menjadi tren di tengah pandemi COVID-19 ini. Tak heran
jika Anda menemukan barisan pesepeda lalu-lalang di jalan. Apalagi jika Anda
keluar rumah di akhir pekan, akan ada lebih banyak orang yang menghabiskan
waktu luang dengan bersepeda. Apakah Anda juga mulai tertarik untuk ikut
bersepeda? Jika iya, pastikan Anda memahami etika bersepeda terlebih dahulu
sebelum anda mulai bersepeda.
Etika dasar dalam
bersepeda ada 6 etika bersepeda yang harus dipahami dan dipraktekkan oleh para
pesepeda, terutama jika anda menggunakan lajur utama.
1. Memberikan Tanda
Ketika Ingin Berbelok
Salah satu hal yang
sering dikeluhkan oleh pengguna jalan adalah kebiasaan pesepeda yang memotong
jalan dan berbelok seenaknya. Hal tersebut sangat berbahaya karena bisa
menimbulkan kecelakaan. Saat bersepeda dan akan berbelok, pastikan menggunakan
isyarat tangan. Perhatikan juga kendaraan lain di sekitar, jangan langsung
memotong di depan kendaraan yang sedang melaju dengan kencang.
2. Selalu Berada Di Lajur
Kiri
Gak semua jalan raya
memiliki jalur khusus pesepeda. Meski demikian, pesepeda harus lebih sadar diri
dan tetap berada di lajur kiri. Hal ini dikarenakan sepeda memiliki kecepatan
yang jauh lebih rendah dibanding kendaraan bermotor, sehingga tentu akan cukup
mengganggu jika melintas di lajur kanan yang dikhususkan untuk kendaraan dengan
kecepatan lebih tinggi. Saat ingin gowes lebih kencang dan berpindah ke lajur
kanan, selalu berikan tanda, entah itu menggunakan tangan atau dengan menoleh
ke arah belakang.
3. Hindari Menggunakan
Earphone Saat Bersepeda
Kalau memakai earphone,
pesepeda gak akan bisa mendengar klakson dari pengendara lain. Padahal bisa
jadi ia berada di lajur yang nggak seharusnya dan pengendara lain ingin mengingatkan.
Jadi hindari menggunakan earphone sekalipun merasa bosan dan ingin mendengarkan
musik saat sedang bersepeda.
4. Bersepeda Dalam
Kelompok Kecil
Etika ini seringkali
dilupakan oleh para pesepeda. Saat bersepeda ramai-ramai, jalanan seolah milik
pribadi dan lupa dengan pengendara lain. Hal ini tentu gak boleh dilakukan.
Usahakan untuk selalu bersepeda dalam kelompok kecil dan tetap memberikan
tempat bagi pengendara lain. Kalau memang ingin melakukan aktivitas gowes
berkelompok, sebaiknya pilih rute yang lebih sepi atau pilih jam-jam yang nggak
sibuk.
5. Harus Berhenti Ketika
Lampu Merah
Banyak pesepeda yang
merasa bahwa ia tidak sedang menaiki kendaraan bermotor, sehingga sering
mengabaikan rambu lalu lintas seperti lampu merah. Hal ini tentu sangat
berbahaya apalagi bisa jadi korbannya bukan hanya si pesepeda itu sendiri tapi
juga pengendara lain. Meski pesepeda memakai cleat, berhenti di lampu merah
tetap jadi sebuah kewajiban. Selain lampu merah, berbagai rambu lalu lintas
lain juga perlu tetap dipatuhi oleh para pengguna sepeda.
6. Selalu Gunakan Bahasa
Yang Sopan
Kendaraan bermotor
menggunakan klakson untuk ‘berkomunikasi’ dengan pengendara lainnya. Namun
pesepeda gak bisa melakukan hal ini. Kalaupun ada bel sepeda, seringkali
suaranya kurang kencang. Maka dari itu, cara satu-satunya untuk berkomunikasi
dengan pengendara lain adalah dengan kata-kata. Yang wajib diingat, hindari
kata-kata yang nggak sopan apalagi mengandung umpatan. Gunakan kata-kata yang
menyenangkan, misalnya ‘Permisi ya, bro’ atau ‘Maaf saya duluan, kak!’.
